Assalamua'alaikum Happy Readers😊😊
yuk simak dan pahami materi mengenai Pengelolaan Nilai Tukar di Indonesia.... Selamat Membaca 😉
A. Pengelolaan Nilai Tukar
Teori dan kebijakan moneter dalam ekonomi terbuka memiliki dua dimensi ang sangat berbeda dengan ekonomi tertutup.
- Pertama adanya lalu lintas devisa dari aktivitas perdagangan dan investasi internasional yang nampak pada neraca pembayaran. Lalu lintas tersebut akan mengetahui jumlah uang beredar kemudian ditransmisikan pada variabel moneter
- Kedua, adanya pengaruh nilai tukar baik karena faktor luar negeri maupun faktor domestik terhadap harga relatif barang dan aset finansial sehingga memengaruhi keputusan pelaku ekonomi
B. Teori Penentuan Nilai Tukar
Awalnya teori penentuan nilai tukar lebih ditentukan pada pandangan sisi perdagangan internasional dalam neraca pembayaran. Akan tetapi dengan semakin berkembangnya pasar keuangan global dan liberisasi keuangan di banyak negara, teori ang berkembang lebih menekankan pada sisi transaksi modal dalam neraca pembayaran.
Bagan berikut menggambarkan evolusi teori penentuan nilai tukar tersebut
Purhasing power Pairty
- Teori PPP menatakan berlukunya law of one price untuk berbagai produk yang diperdagangkan secara internasional.
- Harga barang untuk setiap negara akan sama setelah memperhitungkan tingkat nilai tukar yang ada , yaitu P = P*+S, (S = nilai tukar nominal, P = tingkat harga barang domestik dan P* = tingkat harga barang luar negeri)
- PPP tersebut menjadi dasar bagi pengukuran nilai tukar tertimbang secara rill yang dikenal dengan Real Effective Exchange Rate (REER)
- REER = ∑ ωj πj * / π, (ω = porsi perdagangan dengan masing-masing negara mitra dagang).
- Indeks REER juga bisa digunakan untuk mengukur tingkat daa saing dari sisi nilai tukar rill sehingga dapt dianalisis pengaruhnya pada kinerja ekspor dan impor.
Interest Rate Parity
- Interest Rate Parity (IRP) menekankan konsep flows dalam pergerakan arus modal antar negara dalam neraca transaksi modal.
- Dengan adanya pasar aset Internasional, IRP berlaku sebagai perwujudan law of one price dari suku bunga antarnegara.
- Asumsi: pasar valuta asing cukup efisien dalam mentransformasikan informasi kedalam pergerakan nilai tukar , tidak ada hambatan yang berarti dalam bekerjanya persaingan pasar sempurna, perfect capital mobility dan perfect capital subtitutability
- Dalam kondisi tersebut, tingkat hasil investasi atau suku bunga antar negara akan sama setelah memperhitungkan nilai tukar.
Covered Interest Rate Parity (CIRP) dan (UIRP) Uncovered Interest Rate Parity
Teori paritas suku bunga dapat ditunjukan dalam bentuk CIRP maupun UIRP. Dalam UIRP, tingkat hasil investasi atau suku bunga domestik akan sama dengan suku bunga luar negeri setelah memperhitungkan ekspektasi perubahan nilai tukar: r = r* + [E(S)-S]/S dimana (r,r*) = suku bunga domestik dan luar negeri dan [E(S), S] = ekspektasi dan tingkat nilai tukar spot. Sementara CIRP menunjukan paritas suku bunga untuk investasi antarnegara yang risiko nilai tukarnya telah dilindung nilai (hedge) dengan transaksi forward: r = r* + (F – S)/S, dimana F = nilai tukar forward. Paritas suku bunga seperti ini dapat terjadi karena proses arbitrase dalam transaksi keuangan internasional akan mencegah adanya keuntungan abnormal dari transaksi investasi maupun pinjam meminjam. Setiap perbedaan suku bunga antarnegara akan dihilangkan melalui kebebasan mobilitas dana antarnegara.
The Imposible Trinity
Teori ini menunjukan bahwa stabilitas nilai tukar, kebebasan mobilitas luar negeri dan otonomi kebijakan moneter untuk tujuan stabilitas harga domestik merupakan tiga tujuan yang sulit dicapai sekaligus dalam perekonomian terbuka. Hanya ada dua pilihan yang dapat diwujudkan.
Misalnya, dalam hal negara menghendaki stabilitas nilai tukar dan kebebasan aliran modal luar negeri, otonomi kebijakan moneter untuk tujuan stabilitas harga domestik sulit dicapai karena besarnya pengaruh arus modal luar negeri terhadap perkembangan uang beredar dan inflasi. Dalam hal negara menginginkan kebebasan arus modal luar negeri dan otonomi kebijakan moneter, perkembangan nilai tukar cenderung akan berfluktuasi sesuai dengan besarnya arus modal luar negeri.
Model Mundel-Fleming: Imposible Trinity
Model Mundell-Fleming menggunakan pendekatan IS-LM untuk ekonomi tertutup dan menambahkan hubungan ekonomi terbuka dengan teori PPP dan UIRP. Asumsi : Ekonomi terbuka, biaya transportasi antarnegara sangat rendah sehingga PPP terpenuhi, ada premi risiko sehingga UIRP berlaku, dan mobilitas modal antarnegara berlangsung secarasempurna.
Di sisi lain, keseimbangan di pasar valas ditunjukan oleh kurva FE yang menggambarkan keseimbangan neraca pembayaran:
Neraca Pembayaran: Bop = CA + KA
Neraca Perdagangan: CA = NX
Neraca transaksi modal: KA = K( r – r* - E[Δs])
r* = suku bunga luar negeri, E[Δs] = ekspektasi depresiasi nilai tukar nominal
Analisis model Mundell-Fleming difokuskan pada faktor-faktor fundamental yang menentukan nilai tukar, dan seberapa jauh efektivitas kebijakan moneter dan fiskal dalam stabilisasi output (bukan harga). Sistem nilai tukar dan sistem devisa akan memengaruhi hasil dari model ini.
Grafik 1 mengilustrasikan analisis Mundell-Fleming untuk dua kasus. Kurva IS memiliki slope negatif, sementara kurva LM dan FE memiliki slope positif. Kemiringan slope FE bergantung pada mobilitas modal antarnegara. Grakif berikut menggambarkan analisis Mundell-Fleming untuk dua kasus.
Model Mundel-Fleming: Impossible Trinity (Kasus 1)
Pada kasus pertama dengan sistem devisa bebas dan asumsi fleksibilitas nilai tukar, maka kurva FE horzontal. Ekspansi kebijakan moneter akan efektif dalam mendorong output. Kenaikan uang beredar menggeser LM ke kanan → suku bunga dan dengan terjadinya arus modal asing ke luar menyebabkan depresiasi nilai tukar → neraca perdagangan akan meningkat karena ekspor dan impor.
Kurva IS akan bergeser ke kanan hingga suku bunga domestik dan luar negeri sama (asumsi UIRP). Sementara itu, Stimulus fiskal tidak akan berpengaruh terhadap output. Kenaikan pengeluaran pemerintah menggeser kurva IS ke kanan dan mendorong r naik sehingga menyebabkan apresiasi nilai tukar akibat masuknya modal asing. Akhirnya neraca perdagangan memburuk dan IS kembali ke semula tanpa terjadi perubahan output (Y).
Terima kasih atas kunjungannya Happy Readers💗... Semoga materinya dapat dipahami dan bermanfaat yah😉
Referensi
https://www.bi.go.id/id/bi-institute/policy-mix/core/Pages/Pengelolaan-Nilai-Tukar-dan-Aliran-Modal-Asing.aspx