Minggu, 31 Oktober 2021

Materi Lanjutan Kebijakan Moneter

 Assalamua'alaikum Happy Readers😃

Ada materi baru nih mengenai Kebijakan Moneter ... yuk disimak👇


Ø  Paradigma Baru Kebijakan Moneter

    Pasca GFC 2008/2009 paradigma kebijakan mengarah pada pentingnya kestabilan keuangan dalam mendukung kestabilan harga. Kompeksitas permasalahan dan tambahan sasaran kebijakan mengisyratkan perluna penguatan strategi bauran kebijakan (Policy mix), Monetar policy, macroprudential policy dan capital flows management. Dalam konteks perekonomian kecil dan terbuka, perlu di dukung oleh penguatan kelembagaan melalui koordinasi dan strategi komunikasi.


Ø  Evolusi Kerangka Strategis Kebijakan Moneter





Flexible Inflation Targeting Framework- Svenson (2009)

 Didefenisiskan sebagai rezim inflation targeting yang tidak hanya bertujuan untuk menstabilkan inflasi di sekitar target inflasi, namun juga mempertimbangkan kondisi perekonomian, terutama sektor keuangan dan sektor rill.

Integrated Inflation Targeting Framework-Agenor dan Siva (2019)

  Didefenisikan sebagai rezim flexibel inflation targeting dengan beberapa karateristik tambahan sebagai berikut :

  •   Bank sentral memegang mandat keuangan secara explisit
  • Suku bunga kebijakan moneter harus dapat merespon secara langsung terhadap pertumbuhan kredit yang sangat cepat
  •  Kalibrasi kebijakan moneter dan makroprudensial untuk mencapai stabilitas makro ekonomi dan keuangan.
  •  Implementasi kerangka strategi di dasarkan pada model instrumen dan komunikasi yang baik untuk menghindari adverse effect dari kreditbilitas kebijakan moneter.

Ø  Perbedaan Karateristik Paradigma Baru

·         Sasaran makro ekonomi



·         Aspek kelembagaan




·         Kebijakan pendukung




Ø  Kebijakan Moneter Indonesia 1999-2020




Ø  Kebijakan Moneter Indonesia 1999-2020



    Dengan disahkannya Undang-undang No.23 Tahun 1999, kebijakan moneter memasuki suatu era baru dalam sejarah moneter di Indonesia. Bank Indonesia selain menjadi lembaga independen juga mempunyai peran tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Dengan sistem nilai tukar mengambang, secara implisit tujuan kebijakan moneter di Indonesia adalah menjaga kestabilan harga, dalam perkataan lain Bank Indonesia mempunyai sasaran tunggal, yaitu inflasi. Sebagai implementasi dari Undang-undang baru tersebut, pada awal tahun 2000 Bank Indonesia mulai mengumumkan target inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter. Sejak saat itu target inflasi merupakan elemen penting dalam kebijakan moneter, terutama karena target tersebut diumumkan secara eksplisit kepada publik. Dengan demikian, penetapan sasaran inflasi menjadi sesuatu yang mengikat dalam setiap perumusan kebijakan moneter Bank Indonesia.
    Walaupun UU no. 23 Tahun 1999 tidak mengamanatkan Bank Indonesia untuk mengadopsi suatu kerangka kebijakan moneter berdasarkan ITF, hal ini adalah pilihan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter menetapkan kerangka kebijakan moneternya. Undang-undang mengamanatkan bahwa Bank Indonesia harus mengumumkan sasaran inflasi setahun kedepan. Sesuai amandemen Undang-undang No. 3 Tahun 2004 dimana penetapan sasaran inflasi dilakukan oleh pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia.

Ø  Perubahan Kerangka Strategi BI : 1999-2009





Ø  Perubahan Kerangka Strategi BI : 2010-2020





Ø  Perubahan Kerangka Strategi Oleh BI



Ø  Perubahan Suku Bunga Acuan Kebijakan Oleh BI




Ø  Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter




Ø Pencapaian Target Inflasi Indonesia




Semoga materinya bermanfaat yah Readers😊😊     Wasalamua'alaikum


Referensi

  • https://www.bi.go.id/id/bi-institute/policy-mix/core/Documents/Kebijakan%20Moneter.pdf
  • https://aeyogy.wordpress.com/2015/05/15/kerangka-kebijakan-moneter-teori-dan-penerapan-di-indonesia/

Selasa, 19 Oktober 2021

Ekonomi Moneter 2 ( Tugas 4 )

 


Tugas Individu (4)

 

EKONOMI MONETER II 

Oleh :

LINDA IDO

B1A119037

 

 

JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2021





  1.     Data jumlah uang beredar M1, M2, dan M3 
  • Data Bulanan





  • Data Triwulan


  • Data Tahunan


  • Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar


 v  Analisis  Data Jumlah Uang Beredar ( Data Bulanan )

                   

1.     Data yang cenderung meningkat lebih tinggi perkembangannya  yakni pada tahun 2021 meskipun data pada tahun 2021 hanya sampai pada bulan Juli. Namun Jumlah Uang beredar di setiap bulan pada tahun 2021 cenderung perkembangannya lebih tinggi di banding dua tahun sebelumnya. Misalnya pada bulan Januari Jumlah Uang Beredar M1 tercatat sebesar 176229380,00 Miliar Rupiah, M2 tercatat 676101746,00 Miliar Rupiah dan M3 Tercatat 678229167,00 Miliar Rupiah.  Kemudian pada bulan-bulan berikutnya Sampai bulan Juli M1 tercatat 193338119,00 milliar rupiah, M2 Tercatat 714917297,00 dan M3 Tercatat 716623217,00 mengalami peningkatan yang menurut saya cukup signifikan. Terhitung Agustus 2021, Bank Indonesia melakukan pengelompokan ulang/reklasifikasi komponen uang beredar. Reklasifikasi dilakukan atas tabungan Rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu, dari semula pada komponen uang kuasi menjadi bagian dari komponen uang beredar dalam arti sempit (M1). Reklasifikasi komponen uang beredar dimaksud bertujuan untuk menyempurnakan pengelompokan komponen uang beredar sesuai dengan perkembangan terkini dan menjaga relevansi besaran-besaran komponen dalam Uang Beredar Indonesia, mengacu kepada standar internasional Monetary and Financial Statistics Manual and Compilation Guide (MFSMCG) [5]. Reklasifikasi juga akan meningkatkan akurasi analisis yang dilakukan karena pengklasifikasian yang lebih sesuai. Perkembangan ekosistem digital mendorong penggunaan alat pembayaran non-tunai khususnya dalam transaksi ritel, baik melalui kartu debet, transfer dana dan uang elektronik. Sumber dana yang digunakan untuk bertransaksi tersebut mayoritas berasal dari simpanan masyarakat di Bank, terutama berupa tabungan Rupiah. Dalam perkembangannya, tabungan Rupiah masyarakat di Bank mengalami pergeseran fungsi, lebih kepada motif transaksi.

 

2.     Data yg cenderung stabil perkembangannya yakni pada Tahun 2020. Pada bulan Januari sampai September kisaran perkembangannya pada angka 14-17 Miliar Rupiah ( M1 ), meskipun pada bulan April  mengalami Penurunan yakni Jumlah Uang beredar M2 dalam hal ini Likuiditas Perekonomian   tercatat 623826700,00 miliar rupiah di bandingkan pada bulan Maret sebelumnya M2 tercatat 644045740,00 miliar rupiah begitu juga dengan M1 dan M3 dalam data bulanan tersebut, meskipun penurunannya tidak terlalu tajam. Hal ini di karenakan Uang Giral ( M1 ) dan Surat Berharga Selain Saham(M2) mengalami penurunan pada bulan tersebut. Kemudian setelah itu, pada bulan berikutnya yakni Mei 2020 mengalami peningkatan kembali dengan M2 tercatat 646819350,00 miliar rupiah, M1 tercatat 163775066,00 dan M3 tercatat 649261505,00 miliar rupiah.

 

3.     Data yang cenderung menurun Perkembangannya yakni pada tahun 2019. Hal ini terjadi pada bulan Juli kemudian berlanjut di bulan berikutnya yakni Agustus 2019. Likuiditas perekonomian atau uang dalam arti luas ( M2 ) pada bulan Juli tercatat 594113200,00 miliar rupiah kemudian terjadi penurunan kembali pada bulan berikutnya yakni bulan Agustus dengan M2 tercatat 593456100,00. Begitu pila dengan Jumlah Uang Beredar M1 dan M3 mengalami penurunan dari bulan sebelumnya dan berlanjut pada bulan berikutnya. M1 tercatat 148780100,00 Miliar Rupiah dan pada bulan berikutnya yakni bulan Agustus sebesar 147554400,00 Miliar Rupiah. 

 


4.    Data PDB Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku ( ADHB ) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2019,2020,2021

 

 

*Analisis Data Triwulan baik data PDB maupun Data Jumlah Uang Beredar ( M1,M2,M3 )

PDB Indonesia Menurut Lapangan Usaha

2019

2020

2021

 

 

 

 

Total PDB ADHK dan ADHB

25680183,7

25205600,4

13117512,1

 

 

 

 

Total M1

1319385600,00

1444920089,00

1293638962,00

 

 

 

 

Total M2

5258862900,00

4445237973,00

4868046821,00

 

 

 

 

Total M3

5277377700,00

4466346493,00

4880930363,00

 

 

v  Rasio Perputaran Uang M1 Terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia adalah sebesar 51,3775764 miliar rupiah (2019), 57,32535889 miliar rupiah ( 2020 ), dan pada tahun 2021 sebesar 98,61923146 miliar rupiah.

v  Rasio Perputaran M2 Terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia yakni sebesar 204,7829159 miliar rupiah (2019), 176,3591385 miliar rupiah (2020), dan tercatat pada tahun 2021   371,1105264 miliar rupiah.

v  Rasio Perputaran Uang M3 Terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia yaitu pada tahun 2019 tercatat 205,5038921 miliar rupiah, tahun 2020 sebesar 177,1965921 miliar rupiah dan pada tahun 2021 sebesar  372,09269 miliar rupiah.

 

 

 

 


Jumat, 08 Oktober 2021

Tugas 3 ( Moneter 2 )


Tugas Individu (3)

 

 

EKONOMI MONETER II

Oleh:

LINDA IDO

B1A1 19 037

 

JURUSAN ILMU EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2021





v  Aliran Modal Masuk di Indonesia

 

Aliran modal asing kembali mengalir ke Indonesia dalam bentuk investasi portofolio. Menurut catatan Bank Indonesia ( BI ), dari awal kuartal II- 2020 hingga 15 Juni 2020,tercatat net inflow sebesar US$ 7,3 miliar. Aliran modal masuk(asing) di pengaruhi oleh meredanya ketidakpastian di pasar keuangan gllobal. Selain itu, ini mencerminkan kepercayaan investor akan prospek perekonomian Indonesia. Kembalinya aliran modal asing di Indonesia pada kuartal II 2020 ini juga akhirnya mendukung capaian baik dari cadangan devisa (cadev). Hal ini terlihat dari peningkatan Cadev pada akhir Mei 2020 ke level US$ 130,5 milliar. Selain itu, di minggu pertama November yakni periode 2 November 2020-5 November 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp 3,81 trilliun. Terjadinya net inflow tersebut di sebabkan masuknya asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3,87 Triliun meski di pasar saham asing tercatat jual neto sebesar Rp 0,06 triliun. Sehingga berdasarkan data setelmen selama tahun 2020 (ytd), asing di pasar keuangandomestik masih tercatat jual neto sebesar Rp 161,24 triliun.

 

v  Aliran Modal Keluar

 

Aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik mencapai Rp 153,29 triliun sejak awal tahun hingga Kamis, 10 September 2020. Berdasarkan data transaksi 7-10 September 2020, aliran modal asing keluar dari pasar domestik mencapai Rp 500 miliar. Total dana tersebut diperoleh dari posisi jual neto di pasar saham sebesar Rp 2,37 triliun dan beli neto di pasar SBN sebesar Rp 1,87 triliun. Selain itu, premi CDS (Credit default swaps) Indonesia 5 tahun naik ke 91,36 bps per 10 September 2020 dari 86,71 bps per 4 September 2020. Sementara itu, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia atau BEI tergerus selama sepekan terakhir seiring dengan pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada periode 7 - 11 September 2020, kapitalisasi pasar di BEI turun 4,17 persen menjadi Rp 5.827,72 triliun dari pekan sebelumnya Rp 6.081,39 triliun. Pada saat bersamaan, IHSG turun 4,26 persen ke level 5.016 dari posisi pada akhir pekan lalu 5.239.



Ø  Aliran Arus Modal Keluar :

Negara Investasi

Realisasi Investasi Penanaman Modal Luar Negeri Menurut Negara (Juta US$)

Proyek

Investasi

2018

2019

2020

2018

2019

2020

Amerika

1671.00

2556.00

3590.00

2885.33

2139.14

1566.10

USA

572.00

788.00

1471.00

1217.62

989.31

749.70

Kanada

90.00

123.00

255.00

170.77

186.27

175.30

Amerika lainnya

1009.00

1645.00

1864.00

1496.94

963.56

641.10

Eropa

3346.00

5286.00

9275.00

2321.02

3655.49

2232.50

Belgia

140.00

195.00

381.00

216.37

86.84

27.00

Denmark

56.00

115.00

183.00

1.82

7.60

2.50

Perancis

408.00

723.00

1079.00

49.63

167.35

25.10

Italia

187.00

264.00

420.00

32.09

27.45

12.70

Belanda

840.00

1345.00

2537.00

943.12

2596.78

1422.40

Norwegia

24.00

38.00

47.00

17.20

17.00

7.00

Jerman

361.00

533.00

1008.00

280.42

189.30

143.60

Inggris

483.00

757.00

1386.00

271.13

142.12

192.80

Swiss

225.00

324.00

554.00

243.28

150.70

130.90

Eropa Lainnya

622.00

992.00

1680.00

265.96

270.34

268.50

Asia

15877.00

20869.00

41310.00

22716.83

21567.35

24297.40

Jepang

3166.00

3835.00

8817.00

4952.77

4310.91

2588.00

R.R. Tiongkok

1562.00

2130.00

3027.00

2376.54

4744.51

4842.40

Korea Selatan

2412.00

2952.00

5468.00

1604.72

1070.21

1841.90

Hongkong

1072.00

1508.00

2789.00

2011.42

2890.99

3535.90

Taiwan

471.00

546.00

948.00

210.22

181.09

454.30

Singapura

4946.00

7020.00

15088.00

9193.18

6509.63

9779.10

India

405.00

526.00

833.00

82.12

58.27

57.60

Asia Lainnya

1843.00

2352.00

4340.00

2285.86

1801.74

1198.10

Australia

779.00

1247.00

1908.00

1010.77

519.92

390.10

Australia

635.00

1049.00

1562.00

597.44

348.27

348.60

Selandia Baru

60.00

108.00

169.00

9.28

3.24

13.40

Australia lainnya

84.00

90.00

177.00

404.05

168.41

28.20

Afrika

299.00

396.00

643.00

373.93

326.86

180.20

Nigeria

20.00

26.00

10.00

0.48

0.24

0.10

Afrika Lainnya

279.00

370.00

633.00

373.45

326.62

180.10

Gabungan Negara

-

-

-

-

-

-

Jumlah

21972.00

30354.00

56726.00

29307.91

28208.76

28666.30

 





Ø  Data Aliran Modal Masuk :

 

Sektor Ekonomi (Investasi)

Realisasi Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri Menurut

Sektor Ekonomi (Juta US$)

 

Proyek

Investasi

 

2016

2017

2018

2016

2017

2018

1. Pertanian, Perburuan, Kehutanan, dan Perikanan

668.00

681.00

800.00

21671.00

22947.10

34326.94

Pertanian

633.00

641.00

737.00

21464.60

22883.90

31186.21

Kehutanan

16.00

10.00

22.00

203.80

30.10

3053.17

Perikanan

19.00

30.00

41.00

2.60

33.10

87.56

2. Pertambangan dan Penggalian

134.00

218.00

325.00

6033.60

20635.10

33099.98

3. Perindustrian

3541.00

4513.00

5080.00

106783.70

99187.40

83644.43

4. Listrik, Gas, dan Air

472.00

434.00

560.00

22794.50

25427.50

37264.87

5. Konstruksi

365.00

283.00

401.00

14039.10

30334.30

44979.67

6. Perdagangan Besar dan Eceran, Restoran, dan Hotel

1392.00

1517.00

2090.00

6073.30

8509.60

15526.13

Perdagangan

1024.00

1101.00

1509.00

4513.40

3712.40

6429.82

Restoran dan Hotel

368.00

416.00

581.00

1559.90

4797.20

9096.31

7. Transportasi, Pergudangan, dan Komunikasi

364.00

313.00

384.00

26769.60

34473.50

58739.84

8. Real Estate dan Jasa Perusahaan

324.00

459.00

561.00

9192.80

17246.60

15471.71

9. Jasa Masyarakat, Sosial, dan Perorangan

251.00

420.00

614.00

2873.20

3589.40

5551.34

Jumlah

7511.00

8838.00

10815.00

216230.80

262350.50

328604.92

 




Ø  Data Jumlah Uang Beredar

Jenis Uang

Uang Beredar (Milyar Rupiah)

2021

Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

Uang Kartal

712527.34

698225.26

692459.63

732857.76

743654.60

739104.62

758792.70

Uang Giral

1049766.46

1086536.61

1134913.13

1118307.36

1118232.71

1176422.95

1174588.49

Jumlah (M1)

1762293.80

1784761.87

1827372.76

1851165.12

1861887.30

1915527.57

1933381.19

Uang Kuasi

4977449.45

5005662.76

5042453.04

5088499.53

5114819.04

5187626.77

5198732.58

Surat Berharga Selain Saham

21274.21

20045.48

18200.73

17633.52

18165.01

16457.27

17059.20

Jumlah (M2)

6761017.47

6810470.11

6888026.54

6957298.17

6994871.36

7119611.61

7149172.96

 

 


Berdasarkan data yang dicatat Bank Indonesia, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada bulan Januari 2021 tetap menunjukkan pertumbuhan positif, meski sedikit melambat dari bulan sebelumnya.Pertumbuhan M2 pada bulan Januari 2021 sebesar Rp6.761,0 triliun atau tumbuh 11,8% (yoy), sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 12,4% (yoy). Adapun yang menyebabkan sedikit lebih rendahnya pertumbuhan M2 terutama disebabkan oleh pertumbuhan uang kuasi yang melambat. Pertumbuhan uang kuasi Januari 2021 tercatat sebesar 9,7% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 10,5% (yoy), terutama pada instrumen simpanan berjangka. Sementara itu, komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) tumbuh 18,7% (yoy) pada Januari 2021, meningkat dari 18,5% (yoy) pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan faktor yang memengaruhi, perlambatan pertumbuhan M2 pada Januari 2021 dipengaruhi oleh perlambatan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Pada Januari 2021, pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah sebesar 54,8% (yoy), menurun dari capaian bulan sebelumnya sebesar 66,9% (yoy).Pertumbuhan kredit pada Januari 2021 membaik, dengan kontraksi 2,1% (yoy), berkurang dari kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 2,7% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan aktiva luar negeri bersih pada Januari 2021 sebesar 14,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Desember 2020 sebesar 13,6% (yoy).



Pengelolaan Nilai Tukar dan Aliran Modal Asing

    Assalamua'alaikum Happ y Readers 😊😊 yuk simak dan pahami materi mengenai Pengelolaan Nilai Tukar di Indonesia....  Selamat Membaca...